|
# # #
Klik
disini untuk Ringkasan Sejarah seluruh Gereja Anggota
# # #
|
 |
Gereja Kristus Ketapang |
Jl. K.H. Zainul Arifin 9 Jakarta 10130
Telp. : (021) 633 4546, 6345 546-48 ;
Fax. : (021) 6341 740
Website
:
www.gkketapang.org
POS Kelapa Gading
Jl. Janur Asri VIII Blok QK
16 No. 23 Jakarta 14240
Telp.: (021) 452 3783 |
POS Bojong Indah
Jl. Jagung Raya No. 8 - 10
Jakarta 11740
Telp.: (021) 5813 438, 580
9067 |
POS Taman Alfa Indah
Blok KI No.24 Joglo, Jakarta
12260
Telp.: (021) 585 3159 |
POS Taman Aries
Blok A2 No.18 - 19, Jakarta
11620
Telp.: (021) 584 9719 |
POS Pelud. Soekarno -
Hatta
Jl. Duta Bandara Permai, Jl.
Raya Jeruk No.38
Kel. Benda - Tangerang ;
Telp.: (021) 550 3564 |
POS Cipanas
Jl. Gadog I / 36 Cipanas
Telp : (0263) 513277, 520633 |
POS Green Garden
Green Garden, Blok M no. 1
Jakarta |
Gereja Kristus Kebayoran
Lama
Peninggaran Timur I Kav. A 14 - 15
Jakarta 12240 ; Telp.: (021) 723 9134
Gereja
Kristus Petamburan
Jl. AIP. K.S. Tubun no.2
Jakarta 11410 ; Telp.: (021) 548 0744
Gereja
Kristus Kebayoran Baru
Jl. Wijayakarta C-2
Jakarta 12710 ; Telp.: (021) 525 2714
Gereja
Kristus Jembatan Hitam
Jl. Jembatan Hitam no. 44
Jakarta 11240 ; Telp.: (021) 690 5808
Gereja
Kristus Taruna
Jl. P. Jayakarta Gg. Taruna no. 27
Jakarta 10730 ; Telp.: (021) 601 8042
Gereja
Kristus Taman Kota
Taman Kota Blok B.1 no. 50A
Jakarta 11610 ; Telp.: (021) 5810165 |
Gereja Kristus Pamulang
Pamulang Permai I Blok 24 no. 23
Jakarta 15417 ; Telp.: (021) 740 0186
Gereja
Kristus Sarua Permai
Sarua Permai Blok A.45 no. 11
Tangerang 15414 ; Telp.: (021) 741 7709
Gereja
Kristus Teluk Naga
Kp. Melayu Desa Pangkalan Kec. Teluk Naga
Tangerang 15510 ; Telp.:(021) 5593 0870
Gereja
Kristus Gunung Putri
Jl. Gunung Putri Permai Blok E8 no. 13
Telp. (021) 807 0125
Gereja Kristus Cibinong
Jl. Raya Cibinong Km. 42.5
Cibinong 16916 ; Telp.: (021) 875 2739
|
 |
Gereja Kristus Bogor |
Jl. Siliwangi no. 49 - 51 Bogor 16142
Telp.: (0251) 8325 618 ; Fax. : (021) 8378 252
Website :
www.gkbogor.org
|
POS Ciampea / Leuwiliang
Jl. Pasar Ciampea no. 3 Bogor 16620
Telp :(0251) 8621 433 |
|
POS Kartini
Jl. Kartini 2 - Bogor
Telp :(0251) 8323 429 ; 8379 817 |
Gereja
Kristus Sukabumi
Jl. PGRI no. 5 - Sukabumi 43111
Telp.: (0266) 223080
Gereja
Kristus Purwakarta
Jl. Jend. Sudirman no. 105
Purwakarta 41114 ; Telp.: (0264) 210 388
Gereja
Kristus Bandung
Jl. Jakarta no. 20 - 22, Kb. Kembang Permai Kav. H 2
Bandung ; Telp.: (022) 71026
Gereja Kristus Teluk Betung
Jl. Patimura no. 14 Teluk Betung
Bandar Lampung 35211 ; Telp.: (0721) 48758538
Gereja
Kristus Tanjung Karang
Jl. Ch. Anwar no. 19 Tanjung Karang
Bandar Lampung 35116
; Telp.: (0721) 61000 |
|
SEJARAH BERDIRINYA SINODE GEREJA KRISTUS
Penginjilan terhadap orang-orang Tionghoa yang berdomisili di Indonesia
dilakukan oleh beberapa badan Zending antara lain : Nederlandshe Zendings
Vereeniging (NZV), Nederlandshe Zendings Genostshap (NZG), Zending dari
Gereja Methodist Episcopal Amerika Serikat. Diawali oleh kedatangan Pdt. J.
Heurnius di Jakarta pada 17 Juli 1624.
Tercatat bahwa NZV
menugaskan beberapa orang Pendeta yang tiba di Batavia ( 5 - 1-
1863 ), melaksanakan penginjilan di Jawa Barat. Tercatat pula
bahwa Badan-badan NZG (Jawa Timur), Gereja Gereformeerd (Jawa
Tengah) serta badan dari Gereja Methodist Episcopal (USA)
melakukan pelayanannya di Jawa Barat, Jawa Timur dan Sumatera.
Latar belakang
berdirinya Gereja Kristus dimulai dengan pelayanan Badan Misi
Methodist tahun 1905 yang dilakukan oleh Pdt. J.R. Denyes dengan
jabatan superintendent (Kepala Wilayah, tahun 1905 s/d tahun
1912). Secara khusus, Misi Methodist menugaskan 2 orang
Missionaries (Worthington dan Baughman) di tahun 1910 untuk
memimpin kebaktian/ persekutuan di rumah Lee Teng Ho, kampung
muka, diantara etnis keturunan Tionghoa (10 orang). Ternyata
pelayanan penginjilan tersebut terus berkembang dan kemudian
tempat ibadah berlangsung di Gang Baru (Ketapang Utara). Dari
sini kemudian pindah lagi kesalah-satu rumah di Molenvliet Oost
(sekarang, Jl. Hayam Wuruk) dan selanjutnya ke Prinsenlaan
(Mangga Besar) no. 9 Jakarta Kota.
Pada tahun 1926,
status jemaat ditingkatkan menjadi Gereja Methodist Mangga Besar
dan membentuk Pengurus Gereja dengan Pdt. A. V. Klaus sebagai
ketuanya. Pada tanggal 23 - 27 Nopember 1926 di Cipaku Bogor
berlangsung rapat tokoh-tokoh gereja dari kalangan Tionghoa yang
menghasilkan Bond Kristen Tionghoa (BKT). Tujuan BKT adalah
untuk mempersatukan gereja-gereja Tionghoa dengan menyampingkan
perbedaan doktrin, denominasi, latar belakang dan senantiasa
berusaha untuk berdiri sendiri. Hal ini terjadi karena adanya
pengaruh yang kuat dari The National Christian Council in China
(1922), yang pelayanannya banyak diwarnai oleh The Church of
Christian China, yang sangat mendorong gerja-gereja Tionghoa
untuk melepaskan diri dari pengaruh badan-badan zending. Ketua
dan Sekretaris BKT ternyata adalah anggota dari Gereja Methodist
Mangga Besar yakni Pouw Peng Hong dan Khoe Lan Seng.
Dengan aktifnya 2
orang tokoh gereja Methodist Mangga Besar di BKT, juga mengingat
anggota jemaat merupakan keturunan Tionghoa, maka jemaat
memutuskan untuk lebih memiliki ciri kekhasan sendiri sekaligus
mandiri. Pada tanggal l Januari 1928 ditetapkan berdirinya
Gereja Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Mangga Besar (sekarang Gereja
Kristus Ketapang), dan rapat pengurus pertama diadakan pada hari
Rabu, 11 Januari 1928 dengan saudara-saudara Chang Cheng
Liong dan Oen Tek Tjioe masing-masing sebagai Ketua dan
Sekretaris kaum Pengurus.
Sebagai dampak
perang Dunia I, Methodist Mission mengalami kesulitan dana dari
USA, sehingga memutuskan sejak bulan Mei 1928 untuk mengundurkan
diri dari Pulau Jawa dan memusatkan pelayanannya di Pulau
Sumatera. Gereja Methodist Mangga Besar rencananya akan
diserahkan kepada badan Zending NZV yang juga telah memiliki
pelayanan di Patekoan dan Senen, Jakarta. Rencana ini tidak
terwujud, sebab selain ada alasan-alasan Teologis antara latar
belakang NZV dan Methodist, kaum Gereja Methodist (THKTKH)
Mangga Besar sudah mandiri. Karenanya, jemaat memutuskan untuk
resmi bergabung dengan Bond Kristen Tionghoa (BKT).
Sejak 1 April 1928,
tempat kebaktian pindah dari Prinsenlaan no. 9 dan menyewa
tempat di Molenvliet West 175 (Gajah Mada). Berhubung sewa
tempat ini dirasakan mahal, sedangkan jemaat masih mengalami
kesulitan dana, mulai September 1933 tempat ibadah pindah lagi
ke Prinsenlaan 38.
Masalah lain yang
dihadapi jemaat ialah mundurnya bpk. Pouw Peng Hong sebagai Guru
Injil tetap (Maret 1931) dan pindah ke Makassar. Di kota
Makassar ini Pouw Peng Hong ditahbiskan sebagai Pendeta. Meski
pelayanan Pouw Peng Hong di Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwe Mangga
Besar (THKTKH) cukup singkat, namun beliau pulalah yang
mengusulkan agar istilah pengurus gereja dari "bestuur"
(pengurus) menjadi "Kerkraad" (Majelis gereja).
Menyimak sejarah
perkembangan Gereja Kristus, pada hakekatnya sama dengan
menelusuri berdirinya dan berkembangnya beberapa jemaat ex
Gereja Methodist. Pertama adalah Gereja Methodist Mangga Besar
yang berubah menjadi Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Mangga Besar
(sekarang dikenal dengan nama Gereja Kristus jemaat Ketapang).
"Kerkeraadsvergadering" (Rapat Majelis Gereja) THKTKH Mangga
Besar tanggal 3 Agustus 1935 memutuskan, menerima penggabungan
ex Jemaat Gereja Methodist Tanah Abang. Dengan demikian disaat
itu ada 2 jemaat THKTKH, yaitu Mangga Besar dan Tanah Abang.
Uniknya, kedua jemaat itu dilayani hanya oleh 1 majelis jemaat
(gabungan), dengan sdr. Khoe Lan Seng sebagai Ketua dan sdr. Oen
Tek Tjioe sebagai Sekretaris.
Pada tanggal 12
Desember 1935, Majelis Gereja membentuk Komite THKTKH Bogor yang
terdiri dari Lee Teng San (Ketua), Tjan Tjin Siang (Sekretaris)
, Tan Bok Seng (Bendahara) serta anggota-anggota lainnya : Lie
Kim Tian, Ang Soen Kaw, Tjie Tiang Seng, Ny. Lee Teng San.
Komite tersebut diberi wewenang untuk mengurus segala keperluan
"cabang Bogor".
Melalui keputusan
Gubernur Jenderal pemerintah Hindia Belanda tanggal 12 Juni 1939
(Staatsblad no. 298 ), Gereja Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Mangga
Besar diakui sebagai "Badan Hukum Kerkgenootschap".
Berdasarkan
keputusan Sinode THKTKH (13 Nopember 1939) nama THKTKH diganti
menjadi Chung Hua Chi Tuh Chiao Hui (CHCTCH) yang
anggota-anggotanya terdiri dari CHCTCH Mangga Besar, CHCTCH
Tanah Abang dan CHCTCH Bogor. CHCTCH adalah bahasa nasional Kuo
Yu sedangkan THKTKH adalah dialek Ho Kian, namun sebenarnya
mempunyai arti yang sama.
Tanggal 27 Mei 1936,
Pdt. Tiang Cu Gi (Boksoe dari Tiongkok) diangkat sebagai Pendeta
jemaat. Seluruh biaya hidup Pdt. Tiang Cu Gi ditanggung oleh
Gereja.
Di tahun yang sama disepakati Gereja THKTKH menjadi anggota THKTKH Thay Hwee
(Sinode). Pdt. Dzao Sze Kwang diangkat sebagai Pendeta jemaat menggantikan
Pdt. Tiang Cu Gi.
Tahun 1940, CHCTCH
Mangga Besar membeli sebidang tanah yang terletak di Gang
Ketapang 9 dan kemudian dipergunakan untuk ibadah, sejak 16
Nopember 1940. Sejak saat inilah CHCTCH Mangga Besar dikenal
sebagai Gereja Ketapang. Gedung itu direnovasi pada tahun
1947-1948 (diresmikan tanggal 21 Agustus 1948). Selama renovasi,
ibadah pindah ke gedung Gereja Portugis jalan Pangeran
Jayakarta. Perkembangan selanjutnya, CHCTCH Mangga Besar membuka Pos PI di
Bekasi Timur dan bahkan pada bulan Juni 1952 dapat menahbiskan
Pendeta Clement Lee Sian Hui untuk ditempatkan di sana.
Pada tanggal 20 Juni
1945, majelis Gereja membentuk suatu bagian khusus berbahasa Kuo
Yu dan menempatkan GI Chang Chuan Seng, selanjutnya GI Chuang
ditahbiskan menjadi Pendeta. Bagian tersebut ternyata berkembang
menjadi suatu jemaat yang dikenal dengan Gereja Kristus Kuo Yu
Thang di Jalan Mangga Besar 1/74 Jakarta Kota (sekarang Gereja
Kristus Jemaat Mangga Besar).
Pada bulan Maret
1954 terjadilah suatu peristiwa yang bersejarah dan tidak dapat
dilupakan yaitu "Peristiwa 1954", yang dilatar-belakangi
perdebatan dan perbedaan pandangan Teologis antara Pendeta dan
Majelis jemaat, yang pada akhirnya melibatkan seluruh anggota
jemaat. Adanya sistim Congregational mengharuskan diadakannya
Rapat Umum Anggota untuk menyelesaikan masalah. Akibatnya sangat
fatal - perpecahan jemaat tidak dapat dielakkan.
Jemaat di Pos PI
Jatinegara memisahkan diri dan bergabung dengan Sinode GKI (GKI
Bekasi Timur). Juga jemaat CHCTCH Tanah Abang terpecah, sebagian
tetap bernaung di CHCTCH (pindah lokasi ke Petamburan, yang
sekarang dikenal dengan jemaat Gereja Kristus Petamburan),
sedangkan sisanya pindah ke Sinode GKI (GKI Wahid Hasyim).
Disadur dari "Tata Ibadah Syukur HUT Gereja Kristus, 12 Juni 2005"
oleh Webmaster |
|
 |
GEREJA KRISTUS DARI MASA KE MASA
Oleh Pdt. Stanley
Tjahjadi
(Disalin dari Majalah HUT
GKB ke 70) |
|
|
Gereja
Kristus hadir di Indonesia sebagai hasil atau buah usaha badan
pekabaran injil (zending) yang dilakukan oleh Board of Foreign
Mission (BFM) dari The Methodist Episcopal Church yang didirikan di
Amerika Serikat tahun 1819. BFM melakukan pelayanan khusus kepada
orang Tionghoa. Misionaris BFM yang pertama melayani di Jakarta
sejak 1905, adalah J.R. Denyes.
Perjalanan
berdirinya Gereja Kristus di Indonesia, dimulai dengan sejarah
berdirinya jemaat Ketapang (kini di JI. Zainul Arifin No 9, Jakarta)
yang diawali ketika dua orang misionaris dari Methodist Mission,
yakni Worthington dan Baughman merintis diadakannya kumpulan
pekabaran injil (kumpulan atau persekutuan rumah tangga) di rumah
sdr Lee Teng Ho di Kampung Muka. Dalam persekutuan itu, yang biasa
hadir tetap tidak lebih dari 10 orang.
Dari Kampung Muka, persekutuan rumah
tangga itu mengalami beberapa kali perpindahan tempat, sampai
menempati sebuah rumah di Jalan Prinsenlaan (kini JI. Mangga Besar)
No. 9.
Yang unik
dari persekutuan yang sedang bertumbuh ini adalah kehadiran dari Lee
Bersaudara (Lee Teng Po, Lee Teng Ho, Lee Teng San (ayah dari pdt
Clement Suleeman -Lee Sian Hui dan Opa dari Pdt Ferdy Suleernan) dan
Lie Kim Tian. Lee Bersaudara rajin membantu pelayanan "jemaat" ini
dengan memberi pikiran, tenaga dan waktu mereka sehingga pelayanan
jemaat sangat bergantung pada mereka, Oleh sebab itu, jemaat ini
sering disebut sebagal Gereja Lee Bersaudara.
Status jemaat ini semula masih berada
langsung di bawah Methodist Mission dan diberi nama Gereja Methodist
Mission. Pada tahun 1926, status jemaat ini ditingkatkan dan diberi
nama Gereja Methodist Mangga-Besar dan diangkat pula majelis
jernaat yang diketuai oleh pdt. A.V Klaus.
Dari sejak
awal, para tokoh jemaat Methodist Mangga-Besar ini melihat
pentingnya untuk mempersatukan gereja-gereja Tionghoa yang ada di
Jawa. Tidak mengherankan jika para tokoh jemaat Methodist Mangga
Besar ini berperan aktif dalam panitia penyelenggaraan Konperensi
Kristen Tionghoa pada tanggal 23-27 Nopember 1926 di Cipaku, Bogor.
Dalam
Konperensi itu diputuskan untuk mendirikan Bond Kristen Tionghoa
(BKT) atau Tiong Hoa Kie Tok Kauw Tjong Hwee (THKTKTH), yang secara
resmi didirikan pada tanggal 23 Juni 1927 dalam Konperensi THKTKTH
ke 2 yang berlangsung pada tanggal 22-27 Juni 1927 di Cirebon.
Perlu
diketahui bahwa pendirian BKT atau THKTKTH ini dipengaruhi oleh
pendirian The National Christian Council in China pada tahun 1922.
Dalam BKT kedua itu, dua orang tokoh jemaat Methodist Mangga Besar
terpilih dalam kepengurusan yakni Pouw Peng Hong sebagai ketua dan
Khoe Lan Seng sebagai sekretaris 1.
Dalam tahun
1927, selain peristiwa diresmikannya BKT atau THKTKTH di Cirebon,
terjadi pula peristiwa penting lainnya, yakni keputusan BFM
mengundurkan diri dari pulau Jawa dengan alasan agar dapat
memusatkan misinya di Sumatera. Sehubungan dengan pengunduran diri
BFM ini, maka jemaat-jemaat Methodist asuhan BFM yang ada di Jakarta
dan Jawa Barat hendak diserahkan kepada Nederlandsche Zendings
Vereeniging (NZV) dan yang ada di Jawa Timur kepada Nederlandsche
Zendings Genootschap (NZG). |
|
PERIODE 1928 - 1958
|
|
Berlatar
belakang semangat untuk mandiri, dan juga terpengaruh dengan
dibentuknya Chung Hua Chi Tun Chiao Hui (CHCTCH) atau The Chinese
Church of Christ (CCC) di Tiongkok (Cina) pada tahun 1927, yang
merupakan kesatuan dari gereja-gereja Presbiterial dan gereja-gereja
Kongregasional di Tiongkok, maka Gereja Methodist Mangga Besar
memutuskan untuk membentuk gereja yang berdiri sendiri dengan nama
Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) Mangga Besar pada tanggal 1
Januari 1928.
Namun
demikian, karena Gereja baru ini belum mempunyai pendeta sendiri,
maka diadakan perjanjian dengan pihak NZV untuk membantu THKTKH
Mangga Besar dalam hal tugas kependetaan, khususnya pelayanan
sakramen dan pastoral. Pendeta pertama yang diperbantukan adalah pdt
F. W. Hoppe sebagai pemimpin rohani dan advisor, sedangkan Pouw Peng
Hong diangkat sebagai gembala Jemaat yang tidak ditahbiskan.
Pada Rapat
Majelis THKTKH Mangga Besar yang pertama pada tanggal 11 Januari
1928, diadakan serah terima wakil dari Methodist Mission, pdt. Bower
kepada pihak THKTKH Mangga Besar.
Upaya untuk
mempersatukan gereja-gereja Tionghoa di Jawa masih dilakukan melalui
badan BKT atau THKTKTH. Namun setelah Konperensi BKT atau THKTKTH
yang ke 3, tanggal 31 Agustus 2 September 1928 di Indramayu, badan
tersebut tidak mempunyai kegiatan lagi dan masih bertahan hingga
tahun 1934 karena secara resmi belum dibubarkan.
Setelah
upaya untuk mempersatukan gereja-gerejaTionghoa melalui BKT atau
THKTKTH tidak berhasil, maka beberapa tokohnya mempersiapkan
pembentukan CHCTCH untuk meneruskan cita-cita BKT atau THKTKTH. Pada
tanggal 13-15 Juli 1934 di Cirebon, diadakan Konperensi Pembentukan
CHCTCH di Indonesia. Pada dasarnya, para peserta konperensi
menyetujui dibentuknya CHCTCH di Indonesia, walaupun sebenarnya para
peserta ''terpecah" dalam dua kelompok : kelompok yang berorientasi
ke Tiongkok serta memperlihatkan anti zending (wakil-wakil jemaat
yang berlatar belakang Methodist) dan kelompok yang tidak setuju
dengan hal tersebut (wakil-wakil dari jemaat berlatar belakang
Hervormd dan Gereformeerd).
Pada tanggal
14 Juli 1935 diadakan perpisahan dengan Pdt A. J. Bliek, wakil dari
NZV, dan sebagai penggantinya ditunjuk Pdt. Bergstede, yang ternyata
tidak dapat bekerja sama dengan Majelis jemaat, sehingga hubungan
dengan pihak NZV tidak dilanjutkan lagi.
Dalam rapat
majelis THKTKH Mangga Besar pada tangal 3 Agustus 1935,
diputuskan untuk menerima penggabungan dengan THKTKH Tanah Abang (ex
jemaat Methodist Tanah Abang). Adapun ketua dari majelis gabungan
itu adalah Khoe Lan Seng (dari Tanah Abang) dan sekretaris adalah
Oen Teck Chew (dari Mangga Besar). Gabungan kedua jemaat ini
berlangsung hingga tahun 1948.
Sementara
itu, saudara-saudara kristen di Bogor dalam suratnya tertanggal 5
Desember 1935 kepada Majelis THKTKH Mangga Besar, menyatakan ingin
membuka cabang THKTKH di Bogor. Dalam rapat Majelis THKTKH Mangga
Besar tanggal 12 Desember, dibentuk komite THKTKH Bogor yang
diketuai oleh Lee Teng San. Komite tersebut diberi wewenang untuk
mengurus segala keperluan THKTKH Bogor yang diresmikan pada tanggal
27 Desember 1935.
Sebagai
tindak lanjut dari konperensi 1 tahun 1934 di Cirebon, maka pada
konperensi II tanggal 31 Mei - 1 Juni 1936 di Bandung, dibentuklah
secara resmi CHCTCH (Gereja Serikat Kristen Tionghoa) di Indonesia.
Pada konperensi itu, wakil dari jemaat Mangga Besar, Oen Teck Chew
terpilih sebagai penulis CHCTCH di Indonesia. Di tahun berikutnya,
tanggal 26-28 Maret 1937 diselenggarakan konperensi CHCTCH ke 3 di
Purworejo. Salah satu keputusan penting dari konperensi tersebut
bagi jemaat-jemaat di jawa Barat adalah agar jemaat- jemaat
membentuk Khoe Hwee (klasis)-nya sendiri yang dilengkapi oleh
peraturan atau tata-gerejanya. Setelah konperensi ke-3, keberadaan
CHCTCH di Indonesia tidak ada kelanjutannya lagi.
Pada tanggal
12 Nopember 1938 di Jakarta, terbentuklah sebuah Gereja Tionghoa
yang diberi nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee-Khoe Hwee (klasis)
Djawa Barat (THKTKH-KHDB), sebuah gereja yang jemaat-jemaatnya
adalah gabungan jemaat-jemaat asuhan NZV dan BFM, termasuk pula
jemaat Mangga Besar-Tanah Abang dan Bogor. Dalam persidangan ini,
diterima dan disahkan tata gereja THKTKH-KHDB yang bercorak
presbiterial sinodal.
Karena ada
ketegangan perbedaan denominasi dan pengaruh nasionalisme Tiongkok
di antara anggota- anggotanya, maka pada tanggal 24 April 1939
jemaat Mangga Besar-Tanah Abang menyatakan keluar dari THKTKH-KHDB.
Tidak lama kemudian jemaat Bogor mengikuti jejak jemaat Mangga
Besar-Tanah Abang untuk keluar dari THKTKH-KHDB.
Sejak keluar
dari THKTKH-KHDB, Gereja THKTKH Mangga Besar memperoleh pengakuan
dari Pemerintah sebagai Badan Hukum Kerkgenootschap dengan keputusan
Gubernur Jenderal No C7 (Staatblad No. 298) pada tanggal tanggal 12
Juni 1939. Kemudian ketiga Jemaat ini (Mangga Besar-Tanah Abang &
Bogor) pada tanggal 13 Nopember 1939 mengganti nama Gereja dari
THKTKH menjadi Chung Hwa Chi Tuh Chiao Hui (CHCTCH). Mereka juga
menyatakan diri sebagai golongan gereja Tionghoa merdeka. Tanggal 16
Nopember 1940, lokasi Gereja CHCTCH Mangga Besar pindah ke JI
Ketapang No.9 (Sekarang: JI KH. Zainul Arifin).
Pada tanggal
3 Juni 1945, didewasakan CHCTCH Kuo Yu Thang yang dirintis dari
persekutuan anggota CHCTCH Mangga Besar (Ketapang) yang berbahasa
Tionghoa. (Gereja ini kemudian dikenal sebagai Gereja Kristus Jemaat
Mangga Besar - GKJMB). Gereja baru ini langsung bergabung dengan
Sinode CHCTCH.
Tahun 1949,
Gereja Methodist Teluk Betung bergabung dengan CHCTCH (Mangga Besar/
Ketapang, Tanah Abang, Bogor dan Kuo Yu Thang) menjadi Gereja CHCTCH
Teluk Betung dan membentuk Sinode CHCTCH Chu Hui - Jakarta. Pada
tahun yang sama, CHCTCH Chu Hui Jakarta ini bergabung Dewan
Gereja-gereja Kristen Tionghoa di Indonesia (DGKTI).
Pada waktu
itu dalam wadah DGKTI tergabung 72 Jemaat Tionghoa dari seluruh
Indonesia. Namun DGKTI tidak berumur panjang. Cita-cita untuk
mewujudkan gereja-gereja Tionghoa di Indonesia dalam suatu
organisasi gereja tunggal kembali mengalami kegagalan.
Selanjutnya,
Sinode CHCTCH ikut berperan dalam merintis pembentukan Dewan
Gereja-gereja di Indonesia (DGI) pada tanggal 25 Mei 1950. Perlu
dicatat bahwa dalam salah satu kepengurusan awal DGI, pernah
terpilih bendahara yang berasal dari CHCTCH Ketapang. Pada tanggal
22 juni 1952, didewasakan CHCTCH Purwakarta yang merupakan hasil
penginjilan CHCTCH Ketapang.
Tahun 1954
merupakan ''lembaran hitam' bagi perjalanan Gereja Kristus, karena
pada Maret 1954 terjadi konflik di kalangan pimpinan jemaat Ketapang
yang berasal dari penglihatan seorang pendeta jemaat Ketapang
tentang kedatangan Tuhan Yesus. Jemaat pun menjadi terpecah.
Peristiwa 1954 ini sampai melibatkan aparat pemerintah dan DGI untuk
mendamaikannya. Dampak dari peristiwa ini adalah, 3 Jemaat CHCTCH
(Tanah Abang, jatinegera dan Tangerang) menyatakan diri keluar dari
CHCTCH dan kemudian bergabung dengan THKTKH - KHDB (Sekarang Sinode
GKI wilayah Barat).
Sebagian
dari anggota jemaat Tanah Abang yang tetap memilih bergabung dengan
CHCTCH, merintis jemaat baru, CHCTCH Petamburan yang didewasakan
pada tanggal 5 Desember 1954.
Dalam
Konperensi Sinode CHCTCH di Kuo Yu Tang, tahun 1958 (Dalam buku HUT
ke-50 GKJMB tercatat sebagai tgl 22 Nopember 1959 ?) nama CHCTCH
berubah menjadi Gereja Kristus. Perubahan nama ini diakui oleh
Departemen Agama R.I. dengan surat keputusan No H/II/29I8 tanggal 11
Mei 1963. |
|
PERIODE 1959 - 2005 |
|
Ketika
merubah nama menjadi Gereja Kristus, jemaat-jemaat dewasa yang
bergabung dengan Sinode Gereja Kristus pada waktu itu ada 6 jemaat :
Ketapang, Bogor, Mangga Besar (GKJMB), Teluk Betung, Purwakarta dan
Petamburan.
Sejak itu,
bergabung jemaat Gereja Kristus Jembatan Hitam pada 2 Juli 1960
(berasal dari Gereja Almasih). Lalu tahun 1960 juga didewasakan
Gereja Kristus Cicurug (asuhan dari GK Bogor - namun tahun 1967
jemaat ini menyatakan diri keluar dan bergabung dengan Sinode GKI
Jabar). Pada 15 Desember 1963 didewasakan Gereja Kristus Kebayoran
Lama yang merupakan jemaat asuhan GK Petamburan. Pada tahun 1968
jumlah jemaat Sinode GK bertambah 2 lagi : jemaat Gereja Kristus
Sukabumi, bergabung pada tgl 14 Januari 1968 dan pendewasaan Gereja
Kristus Cibinong (asuhan GK Bogor) pada tgl 21 Nopember 1968. Pada
tgl 12 Februari 1969, Gereja Kristus Bandung yang dirintis oleh
persekutuan Gereja Sangir Talaud, resmi menjadi jemaat Sinode Gereja
Kristus.
Pada
Konperensi di Teluk Betung tanggal 14-15 Agustus 1969, diterima dua
jemaat pindahan dari Gereja Kristen Injili Lampung, yaitu Gereja
Kristus Tanjung Karang dan Gereja Kristus Kotabumi. Namun jemaat
Kotabumi membubarkan diri pada tahun 1973 sejak ditinggal oleh
pendeta Timothy Yosua yang melayani di sana. Perlu dicatat pula
bahwa dalam Konperensi Sinode GK 1969 terjadi perubahan Tata Gereja
dari sistem Kongresional menjadi sistem Presbiterial Sinodal.
Tanggal 27
Januari 1972, Pos PI Taruna asuhan GK Ketapang resmi didewasakan
menjadi jemaat Gereja Kristus Taruna. Kemudian pada tgl 16 Juni
1977, Pos PI Kebayoran Baru yang juga merupakan asuhan GK Ketapang,
didewasakan menjadi jemaat Gereja Kristus Kebayoran Baru.
Setelah
selang waktu yang cukup lama (13 tahun), jemaat Gereja Kristus
bertambah ketika Pos PI Teluk Naga, asuhan GK Ketapang
didewasakan pada tgl I April 1990 dan diresmikan menjadi jemaat
Gereja Kristus Teluk Naga pada Konperensi Sinode GK 1991 di Wisma
Kinasih Caringin - Bogor. Tgl 31 Maret 1991, Pos PI asuhan GK
Ketapang lainnya yakni Taman Kota, didewasakan menjadi Jemaat Gereja
KristusTaman Kota.
Setelah itu,
dua pos PI dari GK Petamburan didewasakan, yakni Gereja Kristus
Sarua Permai pada tgl 24 April 1994 dan Gereja Kristus Pamulang pada
tgl 14 Nopember 1998. Jemaat yang paling muda yakni Gereja Kristus
Gunung Putri (asuhan GK Cibinong) didewasakan pada tgl 30 Juni 2003
dan diterima resmi menjadi jemaat GK pada Konperensi Sinode GK 4-6
Agustus 2003 di Wisma Anugerah -Gunung Geulis, Bogor
Pada
Konperensi Sinode GK di Wisma Anugerah - Gunung Geulis, Bogor itu,
diadakan pemungutan suara berkenaan dengan rencana pemisahan diri
jemaat GKJMB untuk memakai Badan Hukum sendiri. Keputusan Konperensi
adalah 53 suara tidak setuju, 22 setuju dan 1 abstain. Sejak
konperensi tersebut, jemaat GKJMB tidak lagi terlibat aktif sehingga
pada Konperensi Luar Biasa di GK Ketapang tgl 16 Agustus 2004,
diputuskan GKJMB tetap menjadi jemaat Gereja Kristus dengan status
anggota non aktif sehingga hak dan kewajibannya juga dibekukan.
GKJMB secara sepihak telah memproklamasikan sinode sendiri dengan
nama Sinode Gereja KristusYesus (GKY).
Dalam
sejarah perjalanan Sinode GK, untuk pertama kalinya GK ditunjuk
menjadi tuan / nyonya rumah Persidangan MPL PGI yang berlangsung
pada tanggal 25-27 Nopember 2004 di Pondok Remaja PGI, Cipayung -
Bogor.
Lalu dalam
Sidang Raya PGI ke XIV di Wisma Kinasih Bogor, Pdt Kumala Setiabrata
M.Th. terpilih menjadi Bendahara Umum MPH PGI periode 2004-2009.
Pada tanggal
27 Maret 2005, untuk pertama kalinya pula diadakan Paskah Bersama
Sinode GK yang diselenggarakan di Gedung Hall C PRJ, Kemayoran -
Jakarta.
Saat ini,
jumlah jemaat yang bergabung dalam Sinode GK adalah 18 jemaat.
Disamping itu, ada 17 pos PI yang belum dewasa (GK Ketapang 7 pos,
GK Bogor 2 pos, GK Petamburan 3 pos, GKTeluk Naga 3 pos, GKTaruna 1
pos dan GK Kebayoran Lama 1 pos). |
|
Berbagai Cuplikan
Internet mengenai Sejarah
GEREJA KRISTEN INDONESIA
(GKI), khususnya
Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee
(THKTKH)
- Cikal Bakal
SINODE GEREJA KRISTUS (GK) |
|
EPISCOPAL METHODIST BOARD OF MISSIONS in WEST JAVA
Spreading the Gospel among the Chinese immigrants in Indonesia, who
have lived there from at least the beginning of the colonial era,
was only begun in earnest in the second half of the 19th century. In
a number of cities in the island of Java, small congregations sprang
up, which cooperated with Dutch missionaries.
In 1905, the Episcopal Methodists’ Board of Missions started work in
West Java. When the Methodists left Java again (1927), the
congregation which had formed in the Manggabesar area of Jakarta
became independent, with the name Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee
(THKTKH, January 1928) and in 1939, the name changed into CHCTCH.
What moved them to opt for a separate existence was not only their
Methodist background, but also a difference in cultural (Malay or
Mandarin) and political (Netherlands Indies or China) orientation.
However, there was a gradual adaptation to the Indonesian
environment.
In 1950, the CHCTCH was among the founding members of the Council of
Churches in Indonesia (DGI / PGI ; the church did not join any
international denominational or oecumenical organization). In 1958
the church took an Indonesian name, Gereja Kristus, and in 1963 it
adopted a presbyterial-synodal church order instead of the
congregationalist structure it had had up to that year.
Of its 17 congregations in West Java and Southern Sumatra, 9 are
located in Metropolitan Jakarta. Only in one of this congregation,
is Mandarin still in use besides Indonesian language.
The Lord’s Supper is celebrated four times a year, as in most
churches. The church has a theological school in Cipanas (West
Java), a number of elementary and secondary schools, and several
medical and social facilities. It considers June 12, 1939, as its
birthday. |
|
Milestone of the GKI
General Synod
THE
UNIFICATION OF THE GKI 1926-1997 : PROCESS AND MEANING
Rev.
Natan Setiabudi, Ph. D.
Many
church activists of the GKI like to think the unification of the GKI
as beginning with the formation of the Sinode Am GKI (The General
Synod of The Indonesian Christian Church), which brought the three
Synods of the West Java GKI, of the Central Java GKI, and of the
East Java GKI into one General Synod, in 1962. This is only
partially true.
As a
matter of fact it is a crystallization, so to speak, of a long
effort of unification of larger church participants, each with
membership mostly coming from the Chinese descent, since 1926. The
theme of unification, along with that of independence, has been the
principal driving force of those churches since their first
conferences in 1926-1928 to unite themselves as one church, and
persists up to this day. In the process it assumed different names,
forms and meanings in different contexts along its history. In that
process, three cultural strands can be identified intertwining one
to the other constituting the GKI: the Chinese-ness strand, the
Indonesian-ness strand, and the Dutch Calvinism strand.
First,
under the influence of the Chinese nationalism and within the
context of the Dutch colonial government over the Indies, (within
which basically ethnic churches had been planted for a couple of
centuries), during 1926-1928 the Indies Chinese congregations in
Java founded their own first ecclesial organization to unite
themselves. It was a time of identity search for the Christian
Chinese in the Indies. Sociologically it was their first attempt to
come to terms with their new experience as Christians and as Chinese
at the same time and to establish their new identity at the time
when becoming Christian was considered as becoming Dutch.
The
situation can be succinctly described as follows. Exponents of the
Chinese in Java knew very well that the Indies Chinese was a people
without land and without cultural back-bone, which meant that sooner
or later they had to have to choose between European culture and
Indies culture. Therefore when Chinese nationalism emerged in the
beginning of the 20th century they embraced it enthusiastically.
Christian Chinese from different denominations gathered to found a
unity among themselves to have an independent ecclesial
organization. It turned out that as much as they wished to remain
Chinese as Christians, they could not deny the indigenous aspect of
their identity, which was primarily expressed in their adopted Malay
and local languages as their mother tongues replacing Hokien as
language of origin. This mixed cultural identity is identifiable in
the bylaws of the organization they founded.
Its
official name, significantly expressed in two languages, Chinese and
Malay, was Tiong Hoa Kie Tok Kauw Tjong Hwee (THKTKTH) and Bond
Kristen Tionghoa (BKT), the Chinese Christian Union. This was an
expression of their Chinese roots which had been modified by the
process of indigence into the local cultures of the Indies.
Their
wish to remain Chinese, while becoming Christian, was expressed in
several ways. BKT was founded for the Chinese Christian only, as
Christians from other ethnic groups in the Archipelago each had had
their own church organization. BKT's principal "enemy" was what they
called "denominationalism" which was qualified as a Western product
that caused schisms and therefore confused the Chinese to come to
believe in the One Lord Jesus Christ. The Gospel accepted from the
Dutch was felt as "not yet Chinese" and they wanted to transform
Christianity into a Chinese religion just as Buddhism. This line of
sentiment was arrested and modified in the next two phases of the
GKI's history by its Malay or Indonesian's strand, as this strand
was becoming more and more focal within the identity of the GKI.
Second,
in the thirties the strong impetus toward unity and independence
among the local Chinese congregations in Java to assert both their
Christian and Chinese identity at the same time gained momentum as
more congregations joined the movement and more Chinese Christians
proclaimed the Gospel to the Chinese people, which used to be done
by Western missionaries. In 1936 they named their renewed unity in
one Synod (Tay Hwee), again significantly in two languages, Chinese
and Malay, Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) or Chung Hua Chi Tuh
Chiao Hui (CHCTCH), after the name of the united church in China,
and Gredja Sariket (the United Church). One momentous event was the
visit of John Sung, the Chinese missionary, who came to Java in 1939
and helped thousands of Chinese to give themselves to be baptized.
He preached in
Chinese
and was translated into Malay and used short Gospel songs in Malay
which helped drive the Gospel of the Lord Jesus Christ into the
heart of many Chinese people. By the end of the decade the
alien-ness
of Christianity among the Chinese people in Java was diminished.
As a
sure indication we can pinpoint the change of attitude of Kwee Tek
Hoay, the leader of Sam Kauw Hwee, which can be seen as the counter
movement of the Chinese conversion into Christianity in colonial
Java, changed his view in 1941from considering that becoming
Christian for a Chinese meant losing his/her Chinese-ness into
considering that the conversion was due to lack of appreciation of
Chinese culture and religions.
One
unique congregation in this period needs to be mentioned. In 1936
the Batavia Reformed Church of Kwitang, whose membership
originally came from various native ethnic groups, joined the THKTKH
due to coincidence in the use of Malay as the church language. It
was not insignificant that one of the first initiatives to change
the Chinese name of the church THKTKH into GKI, as an expression of
the Indonesian identity of the GKI, came from this congregation
(1955).
Third, after the wars in the forties, Dewan Geredja-geredja
Kristen Tionghoa di Indonesia (DGKTI), the Council of the Christian
Chinese Churches in Indonesia, comprising the local churches of the
THKTKH throughout Indonesia, was established in 1949. Orientation to
China had been changed into orientation to Indonesia. The next year,
1950, when the Dewan Geredja-geredja di Indonesia (DGI), the
National Council of Churches in Indonesia, was founded, the DGKTI
suggested its members to join the DGI due to the latter's
wider-based membership which is open to all ethnic churches in
Indonesia. This change of orientation to Indonesia was not a sudden
and altogether new matter for the THKTKH. The element of
Indonesian-ness had been there in the being of the THKTKH in various
expressions: cultural strand, native membership, statement of some
part of the THKTKH.
The
movement of unity and independence of the GKI/ THKTKH was directed
to the Dutch in the colonial times and in the times when the strong
influence of the Chinese nationalism under the leadership of Sun Yat
Sen came earlier than the Indonesian nationalism. Accordingly the
emphasis on Chinese-ness was conducted more over against the Dutch
rather than to Indonesia and the shift to the focalization of the
Indonesian-ness within the identity of the GKI/ THKTKH was more
natural when the time came, that is, the Indonesian nationalism
became stronger and came of age after the wars.
Fourthly, in the next decade in the fifties, the time was ripe for
the THKTKH to translate its own name into the Gereja Kristen
Indonesia (GKI). It was a literal translation as well as a
positional or orientational one, that is political and cultural.
KTKH (Kie Tok Kauw Hwee) means Christian Church. The TH (Tiong Hoa)
was replaced by Indonesia, not as an adverb of place, but an
adjective as the word Tiong Hoa functioned as one in the name
THKTKH. This signified the identity shift of the GKI, the
focalization of its Indonesian-ness.
In the
meantime, it turned out that joining the DGI with its goal "the
founding of the Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia (GKYE), the One
Christian Church in Indonesia" did not speed up the realization of
the oneness of the church. Concurrent with the process of becoming
Indonesia, the spirit of unity of the GKI was manifested in the
Badan Permusjawaratan Persatuan Geredjani (BPPG), the Body for
Concensus of Church Unity, comprising the West Java GKI, the Central
Java GKI, and the East Java GKI, the three largest church members of
the DGKTI. As the result of their work Sinode Am GKI (the General
Synod of the GKI) was founded in 1962 with the goal to unite the
three synods into one church with one church constitution/ bylaw. By
this time the GKI was becoming more and more pluralized ethnically
and culturally as more and more native Indonesians from all levels
social class join the GKI.
After
some 'digression' in the seventies, a commission on church bylaw
(Komisi Tata Gereja) was established in 1988 and a second one in
1992. Now the last part of the GKI's constitution/ bylaw is being
drafted. Next year, October 1997, is the planned enactment of the
whole constitution, which will signify an important phase of
wholeness in the 'united-ness' of the GKI. The unity of the GKI under
one church bylaw is perceived as one that contributes to both the
realization of the GKYE (the One Christian Church) in Indonesia,
which is the goal of the PGI (the Communion of the Christian
Churches in Indonesia), formerly the DGI, and the national unity of
Indonesia which is considered as a condition sine qua non for the
implementation of the national development plan.
The
spirit of unity and independence of the GKI underwent many stages,
drawbacks and breakthroughs, as it persists through times and
obstacles in its faithfulness to the Lord Jesus Christ. With Rev.
Pouw Peng Hong, the first leader of this movement, we can say with a
little paraphrasing: the movement for independence and unity may
lost its voice, from time to time, yet its spirit persists.
Jakarta, 30 May 1996
Rev.
Natan Setiabudi, Ph.D. -
Former General Chairman of the Executive Body of the GKI |
|